game theory dalam penulisan buku

cara memikat pembaca lewat open loops

game theory dalam penulisan buku
I

Pernahkah kita berjanji pada diri sendiri, "Satu bab lagi, habis itu tidur," tapi berujung menatap halaman buku hingga matahari terbit? Saya rasa kita semua pernah berada di posisi itu. Seringkali, kita menyalahkan kurangnya disiplin diri saat hal ini terjadi. Namun, mari kita lihat fenomena ini dari sudut pandang yang sedikit berbeda. Bagaimana jika sebenarnya pikiran kita tidak sedang lemah, melainkan sedang terjebak dalam sebuah permainan matematis tingkat tinggi yang dirancang secara sengaja oleh sang penulis? Selamat datang di persimpangan di mana sastra yang lembut berbenturan dengan sains keras. Mari kita bedah rahasia di balik teks yang membuat kita tidak bisa berhenti membalik halaman.

II

Ketika mendengar istilah game theory atau teori permainan, bayangan kita mungkin tertuju pada hal-hal yang kaku. Kita membayangkan para ekonom berjas rapi, ahli strategi militer di era Perang Dingin, atau matematikawan jenius yang memecahkan rumus rumit. Pada intinya, game theory adalah ilmu tentang bagaimana kita mengambil keputusan, saat hasil dari keputusan tersebut sangat bergantung pada apa yang dilakukan oleh pihak lain. Nah, membaca buku sebenarnya adalah sebuah permainan dua pemain yang sangat intim. Pemain pertama adalah sang penulis, dan pemain kedua adalah kita, para pembaca.

Sejak zaman purba, otak kita berevolusi menjadi mesin prediksi yang luar biasa. Ini adalah insting bertahan hidup. Kita selalu mencoba menebak apa yang ada di balik semak-semak, atau apa yang akan terjadi esok hari. Saat membaca, otak kita melakukan hal yang sama. Kita terus mencoba memprediksi arah cerita. Sebagai penulis, tantangan terbesarnya adalah: bagaimana cara memenangkan permainan ini? Bagaimana cara membuat pembaca tidak bisa menebak langkah kita, namun tetap merasa puas saat tebakannya salah?

III

Senjata paling mematikan dalam permainan psikologis ini memiliki akar sejarah yang menarik. Pada tahun 1920-an, seorang psikolog Rusia bernama Bluma Zeigarnik sedang duduk di sebuah kafe di Wina. Ia menyadari satu keanehan pada para pelayan di sana. Mereka mampu mengingat pesanan makanan yang sangat kompleks dengan detail yang luar biasa, selama tagihannya belum dibayar. Namun, begitu pelanggan membayar dan urusan selesai? Para pelayan itu langsung melupakan pesanan tersebut.

Fenomena ini kemudian dikenal sebagai Zeigarnik Effect. Otak manusia secara biologis membenci hal-hal yang belum selesai. Ketidakpastian menciptakan ketegangan kognitif di kepala kita. Dalam dunia penulisan dan penceritaan, menciptakan ketegangan yang disengaja ini dikenal dengan teknik open loops atau lingkaran terbuka. Penulis sengaja melempar pertanyaan misterius, memunculkan konflik baru, atau memotong adegan tepat sebelum momen klimaks. Saat ini terjadi, otak kita dipaksa untuk terus membaca demi menutup lingkaran tersebut. Kita sangat membutuhkan dopamin yang muncul dari sebuah penyelesaian.

IV

Di sinilah game theory dan psikologi menyatu menjadi sebuah keajaiban naratif. Penulis yang ahli tidak hanya sekadar membuka satu open loop dan membiarkannya menggantung. Mereka bermain dengan apa yang disebut asimetri informasi. Sang penulis memegang semua rahasia, sementara kita sebagai pembaca hanya diberi remah-remah petunjuk. Dalam game theory, dinamika ini mirip dengan permainan poker tingkat tinggi. Penulis memberikan sedikit kartu terbuka untuk membuat kita berani bertaruh, yaitu dengan mengorbankan waktu tidur kita untuk membaca bab selanjutnya.

Ketika kita akhirnya mendapatkan sebuah jawaban dan satu loop berhasil ditutup, otak kita menyemprotkan dopamin. Kita merasa menang, lega, dan puas. Namun, perhatikan baik-baik trik sang grandmaster. Tepat pada detik yang sama saat kita merasa puas, penulis yang cerdik diam-diam sudah membuka sebuah loop baru di latar belakang. Ini adalah strategi berulang yang brilian. Penulis memberikan hadiah dopamin yang cukup agar kita terus bermain, tetapi sengaja menyisakan ketidaktahuan agar kita tidak berani meninggalkan meja permainan. Kita terus berlari mengejar garis akhir yang tanpa sadar selalu digeser perlahan-lahan oleh sang penulis.

V

Jadi, teman-teman, saat kita kembali mendapati diri kita terjaga di jam tiga pagi demi menghabiskan sebuah novel atau buku non-fiksi yang memikat, jangan terlalu keras pada diri sendiri. Kita tidak sedang malas atau kehilangan kendali. Kita hanya sedang kalah secara elegan dalam sebuah permainan strategi yang dirancang dengan sangat indah. Otak evolusioner kita sedang dirayu secara biologis oleh manipulasi informasi yang cerdas.

Memahami mekanisme ini membuat saya pribadi menjadi pembaca yang jauh lebih apresiatif. Ini menyadarkan kita semua bahwa menulis buku bukanlah sekadar aktivitas merangkai kata-kata puitis. Menulis adalah seni meretas rasa ingin tahu manusia. Membaca adalah bersedia diretas demi sebuah pengalaman. Mari kita rayakan permainan kognitif ini bersama-sama, baik saat kita menjadi pemain yang terhanyut dalam cerita, maupun saat kita bertindak sebagai arsitek yang merancang misterinya.